Dalam perspektif orang Jawa seorang pemimpin harus memiliki syarat yang harus penuhi yaitu memiliki wahyu keprabon dan memiliki trah/keturunan para raja. Karena saat itu sistem pemerintahan di tanah Jawa adalah kerajaan. Wahyu Keprabon yang berarti wahyu untuk menjadi raja/pemimpin. Mari kita tengok sejarah raja/pemimpin di tanah Jawa pada jaman dahulu.
Mulai dari jaman pewayangan dimana para Dewa sudah menakdirkan bahwa yang akan menjadi raja Astina di masa datang adalah keturunan dari Arjuna dan hal tersebut diisyaratkan dimana Arjuna beberapa kali menerima wahyu yang diantaranya adalah wahyu keprabon dari para dewa.
Wahyu tersebut beberapa kali akan direbut oleh para kurawa namun tidak bisa, karena memang wahyu tersebut adalah hak Arjuna. Beberapa waktu setelah perang Barata Yuda akhirnya cucu Arjuna yaitu Parikesit diangkat menjadi Raja Astina Pura. Pada masa kepemimpinan Parikesit sempat beberapa kali mendapat ancaman kudeta diantaranya dari cucu Bima atau Anak Gatotkaca yang bernama Krincing Wesi. Dia merasa berhak atas tahta Astina Pura, karena bapaknya menjadi pahlawan dalam perang Barata Yuda namun akhirnya kudeta tersebut gagal. Dan akhirnya Parikesit yang muncul sebagai pemenang dan dia berhasil memimpin/raja Astina.
Ada kasus didalam cerita pewayangan dimana seseorang memaksakan diri untuk menjadi pemimpin/raja tetapi kekuasaan raja tersebut tidak langgeng yaitu Prabu Suyudana yang dibantu oleh Sengkuni dan para kurawa yang merebut tahta Astina Pura dari para Pandawa dengan cara yang licik. Namun tahta prabu Suyudana tidak berlangsung lama dan dia juga tidak berhasil menurunkan kekuasaanya kepada anak cucunya. Akhirnya tahta tersebut dapat direbut kembali oleh para Pandawa dan Prabu Suyudana beserta para kurawa tewas dalam perang tersebut.
Jadi dalam cerita pewayangan seorang pemimpin harus ditakdirkan oleh para dewa dalam kitabsara yang diisyaratkan melalui wahyu keprabon. Seseorang bisa menjadi raja karena memang sudah memiliki trah atau guratan tangan untuk menjadi pemimpin/raja. Kita dapat memetik pelajaran dalam cerita tersebut bahwa pemimpin/raja harus melalui cara yang benar dan bijaksana.
Dalam sejarah Singosari isyarat pemimpin/wahyu keprabon dipancarkan melalui kaki Ken Dedes yang bersinar. Dan oleh para cerdik-cendikia pada waktu itu meramalkan bahwa Ken Dedes kelak akan menurunkan raja-raja di tanah Jawa.
Ken Arok, seorang rakyat jelata yang kemudian menjadi prajurit Tunggul Ametung, berikeinginan untuk menguasai Tumapel. Ken Arok yang waktu itu masih menjadi pembantu Tunggul Ametung menyaksikan bahwa kaki Ken Dedes memancarkan sinar. Dan Ken Arok sudah mengetahui tentang ramalan tersebut. Setelah beberapa kali terjadi perebutan kekuasan di Tumapel/Singosari Ken Arok kemudian membunuh Tunggul Ametung dengan keris yang dipesan dari Mpu Gandring. Ken Arok kemudian menjadi pengganti Tunggul Ametung dengan dukungan rakyat Tumapel. Ken Dedes pun menjadi istri Ken Arok. Ia dimahkotai dengan gelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi. Tak lama kemudian, Ken Dedes melahirkan puteranya hasil perkawinannya dengan Tunggul Ametung, yang diberi nama Anusapati. Dari selir bernama Ken Umang, Ken Arok memiliki anak bernama Tohjaya.
Langkah selanjutnya adalah penyerbuan ke pusat Kerajaan Kadiri. Ken Arok memanfaatkan situasi politik Kadiri yang kurang kondusif waktu itu, dan beraliansi dengan para brahmana. Raja Kadiri Kertajaya akhirnya dapat dikalahkan pada tahun 1222, dan sejak itu Kadiri menjadi bagian dari wilayah Singhasari
Kitab Pararaton mengisahkan pertempuran berdarah yang terjadi pada keturunan Ken Arok. Anusapati yang mengetahui bahwa pembunuh ayahnya (Tunggul Ametung) adalah Ken Arok, kemudian membunuh Ken Arok pada tahun 1227 dan menggantikannya menjadi raja di Kerajaan Singhasari.
Anusapati memerintah Singhasari selama 20 tahun. Tohjaya, putera Ken Arok dari seorang selir bernama Ken Umang kemudian menuntut balas kematian ayahnya. Tohjaya membunuh Anusapati pada tahun 1248 dan menjadi raja Singhasari. Menurut beberapa riwayat, pembunuhan tersebut juga dilakukan dengan menggunakan keris Mpu Gandring.
Tohjaya mendapat banyak tentangan karena ia adalah anak seorang selir yang dianggap tidak berhak menduduki singgasana Singhasari. Tohjaya hanya memerintah kurang dari setahun karena tewas dalam sebuah pemberontakan yang menentangnya menjadi raja. Pemberontakan dipimpin oleh Ranggawuni anak Anusapati, dan Mahesa Cempaka anak Mahesa Wong Ateleng. Ranggawuni kemudian menggantikannya menjadi raja dengan gelar Wisnuwardhana.
Selanjutnya putra Ranggawuni yaitu Kertanegara menjadi Raja Singosari. Namun kekuasaan Prabu Kertanegara direbut oleh Jayakatwang dari Kediri. Kekuasaan Jayakatwang tersebut tidak bertahan lama karena akhirnya keturunan dari Mahesa Cempaka atau anak dari Dyah Lembu Tal yaitu Raden Wijaya berhasil menyingkirkan Jayakatwang serta bala tentara dari Cina dan Dia menjadi raja Majapahit yang pertama.
Pada masa kejayaan Majapahit yang dipimpin oleh Prabu Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada berhasil menyatukan nusantara bahkan wilayahnya melebihi wilayah Republik Indonesia saat ini. Para ahli sejarah sepakat bahwa penyatuan nusantara waktu itu karena peran yang sangat besar dari Maha Patih Gajah Mada. Namun Patih Gajah Mada tidak bisa menjadi Raja Majapahit karena dia bukan keturunan dari Raja Majapahit, Sedangkan Prabu Hayam Wuruk adalah keturunan raja-raja Majapahit sebelumnya bahkan masih keturunan dari Ken Dedes dari Singosari.
Jadi wahyu keprabon/kepemimpinan pada jaman kerajaan Singosari dan awal berdirinya kerajaan Majapahit lahir melalui keturunan Ken Dedes yang telah diramal oleh para cendikiawan waktu itu bahwa dia akan menurunkan para raja di tanah Jawa karena kakinya memancarkan sinar. dan kekuasaan Singosari selalu tidak bertahan lama karena dilakukan melalui perebutan kekuasan dan tetesan darah yang dilakukan oleh keturanan Ken Arok dan Tunggul Ametung.
Pada masa kerajaan Mataram Islam pun seseorang menjadi Raja/Pemimpin harus memiliki wahyu keprabon. Dalam legenda jawa yang ditulis oleh Dr. H.J. De Graff dalam buku Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa dikisahkan seorang penyadap nira yang bernama Ki Ageng Giring mempunyai sebutir kelapa, yang airnya bila diminum sekali teguk akan membuat si peminum menjadi nenek moyang yang akan memerintah seluruh Tanah Jawa. Ki Ageng Giring konon lupa meminum air kelapa tersebut dan Ki Ageng Pemanahan secara kebetulan meminumnya dan ramalan tersebut menjadi kenyataan, karena keturunan Ki Ageng Pemanahan berhasil menjadi pemimpin di Tanah Jawa.
Dikisahkan Ki Ageng Pemanahan beserta anknya yaitu Danang Sutawijaya mengabdi/suwito kepada penguasa Pajang waktu itu yaitu Sultan Hadiwidjoyo. Dan oleh Sultan Hadiwidjoyo Danang Sutowijyo diangkat menjadi anak angkat. Ketika itu terjadi perselisihan antara Sultan Hadiwidjoyo dengan penguasa Jipang yaitu Adipati Aryo Penangsang. Selanjutnya Sultan Pajang memerintahkan Danang Sutowijoyo, Ki Pemanahan dan Ki Penjawi untuk berperang melawan Aryo Penangsang dari Jipang.
Setelah berhasil menaklukkan Aryo Penangsang, Sultan Hadiwijaya (1550-1582), raja Pajang memberikan hadiah kepada 2 orang yang dianggap berjasa dalam penaklukan itu, yaitu Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi. Ki Ageng Pemanahan memperoleh tanah di Hutan Mentaok dan Ki Penjawi memperoleh tanah di Pati.
Pemanahan berhasil membangun hutan Mentaok itu menjadi desa yang makmur, bahkan lama-kelamaan menjadi kerajaan kecil yang siap bersaing dengan Pajang sebagai atasannya. Setelah Pemanahan meninggal pada tahun 1575 ia digantikan putranya, Danang Sutawijaya, yang juga sering disebut Pangeran Ngabehi Loring Pasar. Sutawijaya kemudian berhasil memberontak pada Pajang. Setelah Sultan Hadiwijaya wafat (1582) Sutawijaya mengangkat diri sebagai raja Mataram dengan gelar Panembahan Senapati. Pajang kemudian dijadikan salah satu wilayah bagian daari Mataram yang beribukota di Kotagede. Senapati bertahta sampai wafatnya pada tahun 1601.
Selama pemerintahannya boleh dikatakan terus-menerus berperang menundukkan bupati-bupati daerah. Kasultanan Demak menyerah, Panaraga, Pasuruan, Kediri, Surabaya, berturut-turut direbut. Cirebon pun berada di bawah pengaruhnya. Panembahan Senapati dalam babad dipuji sebagai pembangun Mataram.
Jadi wahyu keprabon pada jaman Mataram Islam dimulai ketika Ki Ageng Pemanahan meminum sebutir kelapa, yang airnya bila diminum sekali teguk akan membuat si peminum menjadi nenek moyang yang akan memerintah seluruh Tanah Jawa. Dan akhirnya Raja-Raja Mataram Islam adalah keturunan dari Keturunan Ki Ageng Pemanahan.
Pada Jaman Rasulullah Muhammad SAW, beliau memang orang yang dipilih oleh Allah SWT untuk memimpin umatnya dan segala tingkah laku, sikap dan perbuatan beliau selalu mendapat bimbingan dari Allah SWT melalui malaikat Jibril. Nabi Muhammad juga memiliki syarat untuk menjadi pemiimpin diantaranya adalah shidiq yang berarti jujur, amanah berarti aman dapat dipercaya, fathonah berarti cerdas serta tabligh bisa menyampaikan.
Gaya kepemimpinan Presiden Sukarno berbeda dari kepemimpinan-kepimpinan kerajaan-kerajaan tempo dulu dia tidak mendapat wahyu keprabon atau wahyu sebagai seorang pemimpin. Beliau sebagai Bapak Proklamator Republik Indonesia memiliki karisma untuk memimpin bangsa dan negaranya.
Untuk kepemimpinan di Indonesia saat ini sudah tidak mungkin lagi menunggu munculnya wahyu keprabon dari para Dewa atau wahyu dari Allah SWT serta memiliki trah/keturunan dari para Raja karena sistem pemerintahan kita bukan sistem Kerajaan. Seorang Pemimpin idealnya harus memiliki sifat yang jujur, amanah, cerdas dan dicintai oleh rakyatnya dan yang sangat penting adalah seorang pemimpin harus dapat memakmurkan rakyat Indonesia.
Sumber :
Dr. H.J. De Graff dalam buku Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa
Internet
Berbagai Sumber




